Advertiser

banner_pie_Crush_copy

Breaking News

dr. Judi Januadi Endjun Sp.OG

dr. Judi Januadi Endjun
“Untung cita-cita saya dulu menjadi dokter. Kalau bercita-cita menjadi presiden, bisa-bisa yang jadi presiden Indonesia periode sekarang ini saya,” canda dr. Judi Januadi Endjun Sp.OG, saat ditemui di Balai Sudirman, Jakarta.
Sejak kecil, kelahiran Bandung 7 Januari 1959 ini telah bercita-cita menjadi dokter. Ia terobsesi sang ayah, yang berprofesi sebagai dokter. Judi kecil merasa bangga ketika melihat ayahnya menangani pasien di sebuah kecamatan di Lampung. Warga sangat menghormati ayahnya. Tak jarang ada yang memberikan makanan atau hasil kebun dan peternakan, setelah diobati.
Lulus FK Unopad Bandung 1985, ia ikut PTT di Timor Timur. Ia menjabat Kepala Puskesmas Kecamatan Hutobuilico, Kabupaten Aninaro, selama 2 tahun. Di sana, ia mendapat pengalaman yang luar biasa. “Saya pernah melihat langsung proses melahirkan warga masyarakat setempat. Saya heran,” ujarnya.
Di sana, ibu yang melahirkan dengan posisi jongkok dan bergelantungan di sebuah kain yang diikat erat. Sebagai dokter yang baru lulus, ia merasa ada yang salah dengan yang dilakukan warga.
Namun, setelah lulus sebagai spesialis obgyn tahun 1993, ia sadar bahwa yang dilakukan masyarakat di Timor Timur itu benar. Sekarang ini, banyak negara di Eropa yang melakukan penelitian tentang berbagai keunggulan teknik melahirkan dengan posisi jongkok, atau nungging.
“Teknik melahirkan secara terlentang, memiliki beberapa resiko. Ini teknik yang salah, yang diturunkan oleh kolonial Belanda dulu,” ujar dr. Judi. Menurutnya, perlu effort dari pemerintah untuk melakukan perubahan dan membuat sebuah aturan baru tentang tekhnik bersalin. Ini bisa dilakukan, contohnya dalam UU Kesehatan diwajibkan pemberian susu eksklusif (ASI) bagi bayi, dan bisa berjalan hingga kini.
Di kala senggang, suami dr. Ria Hiranyawati Hidajat Wargahadibrata ini biasa berasyik ria dengan kameranya. “Hobi fotografi sejak kuliah. Saya sempat dimarahi ayah, gara-gara asik jadi fotografer acara pernikahan. Nilai mata kuliah turun drastis karena saya jarang belajar,” ujarnya.
Hasil jepretannya yang tak ternilai, yakni ketika ia mem-freeze proses kelahirkan anak pertama. “Itu foto koleksi pribadi, tidak dipublikasikan. Bisa kena marah istri saya,” ujarnya tertawa. (ant)

Tidak ada komentar