dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV
dr. Hariadi Hadibrata |
“Ayah saya 11 bersaudara, 7 menjadi dokter. Saya 3
bersaudara, semuanya menjadi dokter,” ujar
dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV.
Kelahiran Jakarta, 24 Januari 1974, ini menjadi dokter bukan semata profesi, melainkan
hobi. “Kalau dokter kita anggap sebagai profesi, di tengah jalan bisa jenuh. Sebaiknya dokter dijadikan hobi; hoby menolong
orang dan bisa menghidupi diri sendiri.”
Keputusan mengambil bidang bedah torak
kardiovaskular, di luar dugaan karena bidang ini kurang peminat. “Di Indonesia,
saat ini hanya ada 100,” paparnya. Lama pendidikan yang minimal 14 semester
atau 7 tahun, membuatnya banyak yang enggan. Yang menarik karena ia suka
tindakan bedah sekaligus tertarik dengan jantung.
Pengalaman PTT selama 3 tahun (2001-2003) di RSUD
Dr. Rubini, Mempawah, Kalimantan Barat,
tak bisa dilupakan. Ada pasien lansia yang harus dilakukan suction,
karena banyak lendir. Selang plastik dimasukan ke mulut, selang suction dihubungkan dengan alat suction yang
menggunakan sumber listik. Karena kondisi pasien sudah parah, pasien akhirnya meninggal.
Tanpa diduga, datang 1 truk orang meminta
pertanggung jawaban. Rumah sakit sampai harus dikawal tentara karena ada issu
akan dibakar. Pihak keluarga mengira pasien distrum. Dilakukan dialog melibatkan
tokoh masyarakat setempat. Mereka akhirnya memahami apa yang terjadi.
Hobinya naik gunung. “Sejak SMA di Malang, saya
setiap minggu naik gunung. Kuliah di FK Unika Atma Jaya, saya juga naik gunung.
Sampai sekarang.”
Total sudah 30 gunung di Sumatra, Jawa dan Bali didaki.
Diantaranya Semeru dan Rinjani. Paling menarik saat di gunung Semeru. Variasi
medannya unik, ada bukit, hutan, padang rumput, pasir. “Dua kali ke sana, saya
ketemu hujan es. Butiran es sebesar kelereng dan kalau kena badan sakit sekali.”
Kini ia bertugas di MRCCC Siloam Semangi, RS Sentra Medika dan RSU Bunda
Jakarta. (ant)
Tidak ada komentar
Posting Komentar