Advertiser

banner_pie_Crush_copy

Breaking News

Dr. med Benny Santosa, SpPD-KEMD

Dr. med Benny Santosa
Menjadi detektif. Itu cita-citanya di masa kecil. “Karena pengaruh dari keluarga, akhirnya saya menjadi dokter,” ujar Dr. med Benny Santosa, SpPD-KEMD, dari Rumah Sakit Pluit, saat ditemui dalam simposium “Holistic Care Diabetes Mellitus on Daily Practice”, di Swiss BelHotel, Mangga Besar, Jakarta. Keinginannya menjadi ahli penyakit dalam, muncul saat semester pertama di fakultas kedokteran di Jerman. Maka, setelah lulus sebagai dokter umum ia mengambil spesialis di Jerman dan sempat mengajar di bekas almamaternya. Mengapa kembali ke tanah air? “Saya boleh kan kangen dengan rujak cingur, sama sambel terasi,” kelahiran Surabaya ini tertawa.
Selain buku kedokteran, ia hoby membaca buku mengenai politik dan sejarah. Kecintaannya pada sejarah, sempat membuatnya ingin menjadi sejarawan, saat di bangku SMA. Mengenai politik, ia tertarik menganalisa kinerja pemerintahan dan kinerja patra menteri, termasuk kehidupan masyarakat saat ini. Ia membandingkan dengan kondisi di Jerman, di mana ia pernah tinggal selama 23 tahun.

Menurutnya, Indonersia sudah mengarah ke demokrasi yang baik. Namun, ia berharap demokrasi saat ini tidak sampai kebablasan, karena dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk tujuannya tertentu, secara tidak adil.

Soal makanan, ia tidak pilih-pilih. Namun, sebagai dokter yang expert di bidang diabetes, beberapa jenis makanan sebusa-bisa ia hindari. Seperti makanan berlemak, gorengan, atau makanan yang terlalu manis. “Bukan tidak boleh, karena sebetulnya tidak ada makanan yang dilarang, tapi sebaiknya kita tahu batas. Dan, sebaiknya, semua orang menambah konsumsi sayur dan buah, agar lebih sehat,” katanya.

Setiap pagi, ia senam 20-30 menit dan sore hari disempatkan berenang. “Saya sebetulnya kangen main basket. Tapi, jadwal saya padat dan belum ada yang mengajak saya lagi,” ujarnya tertawa.

Tidak ada komentar